Soeharto Pahlawan??

Di tengah-tengah kisruh dan ricuh soal rekayasa dan korupsi, antara Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dan jajaran Polri, antara ‘cicak’ dan ‘buaya’. antara pro rakyat dan pro penguasa, menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember 2009, di kawasan Menteng Jakarta terpampang poster yang cukup besar dengan tulisan: “Selamat Hari Pahlawan”, dilanjutkan dengan kata-kata yang berbunyi: “Bangsa Yang Besar adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Pahlawannya”. Di bagian kiri poster ditampilkan gambar Jenderal Suharto sedang di bagian kanan adalah gambar/logo DPP Kiblat (Ka’abah). Rakyat Merdeka Online (5/11/09) yang memuat gambar poster itu di halaman depan, atas pemuatan foto/gambar itu member komentar dengan menulis: “Suharto yang tertulis dalam Poster disebut sebagai pahlawan yang telah banyak berjasa terhadap pembangunan di Indonesia saat berkuasa” (Tedy Kroen/Rakyat Merdeka)Pengikut Suharto dan kroni-kroninya, sepertinya menggunakan momen HARI PAHLAWAN 10 NOPEMBER tahun ini buat mengangkat kembali citra tokohnya untuk bisa dianggap dan dijadikan ‘pahlawan’ dengan memasang poster yang demikian besarnya.Suharto ‘Pahlawan’?
Oleh : Yoseph Tugio Taher

09-Nov-2009, 19:36:39 WIB – [http://www.kabarindonesia.com] KabarIndonesia – Di tengah-tengah kisruh dan ricuh soal rekayasa dan korupsi, antara Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dan jajaran Polri, antara ‘cicak’ dan ‘buaya’. antara pro rakyat dan pro penguasa, menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember 2009, di kawasan Menteng Jakarta terpampang poster yang cukup besar dengan tulisan: “Selamat Hari Pahlawan”, dilanjutkan dengan kata-kata yang berbunyi:  “Bangsa Yang Besar adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Pahlawannya”. Di bagian kiri poster ditampilkan gambar Jenderal Suharto sedang di bagian kanan adalah gambar/logo DPP Kiblat (Ka’abah). Rakyat Merdeka Online (5/11/09) yang memuat gambar poster itu di halaman depan, atas pemuatan foto/gambar itu member komentar dengan menulis:  “Suharto yang tertulis dalam Poster disebut sebagai pahlawan yang telah banyak berjasa terhadap pembangunan di Indonesia saat berkuasa” (Tedy Kroen/Rakyat Merdeka)Pengikut Suharto dan kroni-kroninya, sepertinya menggunakan momen HARI PAHLAWAN 10 NOPEMBER tahun ini buat mengangkat kembali citra tokohnya untuk bisa dianggap dan dijadikan ‘pahlawan’ dengan memasang poster yang demikian besarnya.

Nampaknya, golongan yang tidak mau tahu sejarah, yang tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi masih menganggap Suharto sebagai pahlawan dan dewa yang perlu diagungkan karena mereka pernah mendapat keuntungan dengan berkuasanya Suharto pada masa lalu. Beberapa waktu yang lalu, PKS (orang mengatakan: Partai Kroninya Suharto?) yang diketuai oleh Tifatul Sembiring, juga telah memunculkan Suharto sebagai ‘pahlawan’ dalam tayangan tv, yang menyulut banyak reaksi di kalangan masyarakat. Sekarang, untuk membalas jasa Tifatul yang mengagungkan Suharto itu, sebagai Ketua PKS, dia diangkat, dianugerahi  kedudukan menjadi menteri dalam Kabinet SBY.
Kelihatannya, memang benar, bahwa sedikit demi sedikit para kroni Suharto yang masih berkuasa dan menjadi pimpinan politik dan partai, tidak peduli dan  berusaha untuk melupakan dan menghilangkan sejarah bangsa Indonesia, dengan mengagungkan si Sersan KNIL (tentara penjajah Kolonialis Belanda) Suharto, sebagai “pahlawan’. Padahal, kalau kita mau jujur dengan Sejarah, Suharto sejak mula perjuangan kemerdekaan Indonesia, mempunyai reputasi yang tidak bersih, seperti  “peristiwa 3 Juli 1946”, peristiwa kriminal/penyelundupan di Kodam Diponegoro (1957), peristiwa penyelundupan dan penjegalan Ganyang Malaysia di tahun 1963 yang semuanya dilakukan/diprakarsai oleh Suharto. Dan di tahun 1965 Suharto menggunakan anak angkat/mantu kesayangannya Letkol. Untung Samsuri, dan teman akrabnya sejak jaman perjuangan kemerdekaan Kolonel A. Latief serta Brigjen Supardjo buat menghabisi lawan-lawannya yaitu Jenderal  A.Yani dkk. dalam suatu gerakan yang disebut G30S.Kemudian dengan dalih alas an menumpas G30S yang katanya mau mengkup Presiden Soekarno,  di mana Suharto tahu sebelumnya, bahkan  diduga kuat ikut di dalamnya, Suharto melakukan, menganjurkan dan merestui pembunuhan massal atas jutaan bangsa Indonesia, guna memudahkan pelaksanaan rencana dan tujuannya yaitu naik ketampuk atas  dan menggulingkan Bung Karno, setelah musuh-musuhnya dihabisi.
Untuk bisa menjatuhkan Bung Karno, Suharto dan kliknya, Yoga Sugama dan Ali Murtopo serta perwira-perwira AD hasil training CIA/MI-6, membuat rekayasa dan fitnah keji yang dapat membakar emosi rakyat dengan mengidentikkan G30S dengan PKI, hingga rakyat yang telah digili dan terbakar emosinya, meningkatkan kebenciannya terhadap komunis dan bertindak  seperti  serigala, seperti binatang buas, membunuh dan mencincang rakyat yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa, hanya karena dituduh sebagai PKI, sebagai anti tuhan, sebagai terlibat G30S, mengetahui secara langsung ataupun tak langsung tentang G30S. Sedang Suharto sendiri terang-terangan memerintahkan Kolonel Yasir Hadibroto dan kesatuannnya pada Oktober untuk “membereskan”, melakukan pembunuhan atas Menteri  Negara D.N. Aidit. Begitu juga Njoto, Lukman dan tokoh-tokoh komunis lainnya, dilenyapkan  tanpa peradilan hukum, serta menangkap dan menahan puluhan menteri-menteri  kabinet dengan semboyannya “tangkap dulu, alas an cari belakangan”.
Di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, antara Oktober sampai Desember 1965 berlangsung terror pembunuhan atas bangsa Indonesia. Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, komandan RPKAD, yang baru tamat latihan selama 18 bulan di Australia, dengan 400 orang prajuritnya yang ‘perkasa’, laksana  ‘ninja’ malang melintang di seluruh Jawa/Bali membabati bangsa Indonesia, laki-laki, perempuan dan anak-anak yang diindikasikan sebagai PKI atau yang di PKI-kan. (Di Bali, tahun 65/66 diperkirakan 5% penduduknya mati dibantai oleh RPKAD dan pengikutnya). Aksi dan sepak terjang Kolonel Sarwo Edhi Wibowo ini, menjadi kebanggaan para pengikutnya. Ketika kembali ke Jakarta setelah selesai melaksanakan “tugas pembantaian”, Sarwo Edhi Wibowo di elu-elukan oleh pemujanya. Mereka berpesta pora dan bersorak sorai   “tiga juta telah dibantai…….”Sarwo Edhi Wibowo dianggap “tokoh” dan menjadi legendaris ketika pasukan RPKAD yang dipimpinnya bergerak dari Jakarta menuju Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, pada Oktober, Nopember dan Desember 1965.

Dua hari sebelum Natal 1965, Kedutaan Australia di Jakarta memperkirakan, pukul rata, 1500 orang telah dibunuh setiap hari semenjak 30 September 1965.
(Paul H Salim Calgary, Kanada)  Hasil investigasi yang dilakukan oleh Tim Pencari Fakta, yang lebih dikenal sebagai Komisi Lima yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri saat itu, Mayjen. Dr. Soemarno, dengan anggota-anggota Moejoko (Polri), Oei Tjoe Tat  SH, Mayjen. Achmadi (ex. Brigade.XVII/TP) dan seorang lagi tokoh Islam, menyebut bahwa jumlah korban pembunuhan yang dilakukan atas perintah Soeharto sekitar 500.000 orang. Bahkan menurut pengakuan mendiang Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, Panglima RPKAD, kepada Permadi SH, jumlah yang dibunuh mencapai sekitar 3.000.000   ( baca: tiga juta!) orang. “Itu yang ia suruh bunuh dan ia bunuh sendiri” kata sumber itu. (http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1998/08/26/0011). Telegram Green, dutabesar AS di Jakarta ke Washington tanggal 20 Oktober 1965 mengatakan: “Beberapa ribu kader PKI dilaporkan telah ditangkap di Jakarta….beberapa ratus diantaranya telah dibunuh. Kami mengetahui hal itu….pimpinan PKI Jakarta telah ditangkap dan barangkali telah dibunuh… RPKAD tidak mengumpulkan tawanan, mereka langsung membunuh PKI.

Kendatipun, menjelang akhir hayatnya, Sarwo Edhi Wibowo yang bertemu dengan Ilham Aidit, putra bungsu D.N. Aidit, Ketua PKI, di mana Sarwo Edhi pernah menyatakan “penyesalannya dan mengaku salah” atas apa yang dilakukannya, karena ketika itu dianggapnya sebagai benar disebabkan perintah atasannya yaitu Suharto, namun hal itu bukanlah sekedar persoalan pribadi antara Sarwo Edhi Wibowo dan Ilham Aidit. Persoalan itu adalah persoalan Bangsa, Negara dan Rakyat Indonesia, yang penyelesaiannnya harus melalui Negara, dan tidak cukup dengan sekedar penyesalan dan permintaan maaf Sarwo Edhi kepada Ilham Aidit. Sebab, kezaliman yang menjadi policy pimpinan AD yang dilakukan Sarwo Edhi Wibowo beserta nakbuahnya yang laksana Zenghis Khan  itu menjadi contoh gamblang dan inspirasi bagi pengikut-pengikut Suharto yang haus darah dengan tulang punggung Angkatan Darat, melakukan terror, pembunuhan-pembunuhan biadab, pemerkosaan dan pelenyapan massal atas satu golongan politik bangsa di seluruh Indonesia.

Di Aceh, Sumatra Utara, Tapanuli, Sumbar, Riau, Sumsel, Jabar, Jateng, Jatim, Bali dan di seluruh persada tanah air, bertebaran mayat-mayat tak berkepala, di jalan-jalan, di sungai-sungai dan selokan-selokan. Moral dan kebudayaan bangsa Indonesia menjadi rusak binasa. Bahkan yang sudah ditahan dalam Kamp Konsentrasi, istilahnya ‘diamankan’, diambil setiap malamnya, di-bon dari kamp tahanan untuk dibunuh!  Peristiwa pembantaian di Jawa Timur diungkapkan oleh Presiden Soekarno dalam pidato di depan HMI di Bogor 18 Desember 1965. Soekarno mengatakan pembunuhan itu dilakukan dengan sadis, orang bahkan tidak berani menguburkan korban. “Awas kalau kau berani ngrumat jenazah, engkau akan dibunuh. Jenazah itu diklelerkan saja di bawah pohon, di pinggir sungai, dilempar bagai bangkai anjing yang sudah mati.” (Soekarno Menggugat Oleh Asvi Warman Adam- Harian KOMPAS 6/6/03).

Bertrand Russel, pemikir besar Liberalisme, menyebut pembunuhan massal ini sebagai hal yang amat mengerikan yang mustahil bisa dilakukan oleh manusia. (Perang Urat Syaraf…Kompas 9 Pebruari 2001) “Dalam empat  bulan, manusia yang dibunuh di Indonesia, lima kali dari jumlah korban perang Vietnam selama 12 tahun” (“In four months, five times as many people died in Indonesia as in Vietnam in twelve years” .”(Bertrand Russel, 1966/Kathy Kadane, State News Service, 1990).

Dr. Robert Cribb, Dosen Sejarah pada Universitas Nasional Australia di Melbourne, memperkirakan jumlah korban berkisar antara 78.000 hingga 2 juta jiwa. John Hughes dalam bukunya “Indonesian Upheaval” (1967), memprediksikan antara 60.000 hingga 400.000 orang. Donald Hindley dalam tulisannya, “Political Power and the October Coup in Indonesia” (1967), memperkirakan sekira setengah juta orang. Prof. Guy Pauker, agen CIA yang sangat dikenal dan tidak asing lagi di Seskoad (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat), dalam tulisannya “Toward New Order in Indonesia” memperkirakan 200.000 orang yang dibunuh.Yahya Muahaimin dalam bukunya “Perkembangan Militer dalam Politik di Indonesia 1945-1966”, memprediksikan sekira 100.000 orang. Ulf Sundhaussen, dalam bukunya “The Road to Power: Indonesian Military Politic 1945-1967” (1982), khusus untuk Jawa Barat, tanpa menyebut angka, mengatakan bahwa dari seluruh anggota komunis yang dibunuh di Jawa barat, bisa jadi hampir seluruhnya dibantai di Subang.
Pramudya Ananta Toer, Sastrawan dan bekas tapol dari Pulau Buru, dalam ucapannya sebelum meninggal dunia, yang direkam dalam film dokumen “Shadow Play” mengatakan: Sampai sekarang tidak jelas berapa jumlahnya yang dibunuh. Soedomo [Kopkamtib] mengatakan 2 juta yang dibunuh, Sarwo Edhie [RPKAD] mengatakan 3 juta yang dibunuh. Yang jelas tidak ada yang tahu sampai sekarang”. Kalau saja, pihak-pihak yang menganggap Suharto itu sebagai ‘pahlawan’, mau belajar dan melihat sejarah secara jujur, masihkah ia akan menganggap Suharto itu sebagai ‘pahlawan’?. Apakah seorang yang menganjurkan, membiarkan bahkan memerintahkan pembunuhan begitu banyak orang, apalagi membunuh/melenyapkan Menteri Negara/Pemimpin Partai tanpa hukum peradilan bisa dianggap pahlawan? Hanya manusia-manusia keblinger yang rusak nalarnya yang bakal menganggap Suharto itu pahlawan! Suharto memang berjasa besar terhadap kroni-kroninya, tapi dosanya terhadap rakyat, terhadap bangsa,  terhadap Negara juga sangat besar, yang menyebabkan bangsa kita ini terpuruk sampai sekarang, terlebih dengan hutang luar negeri yang uangnya masuk kantong Suharto dan keluarga serta kroni-kroninya.

Generasi muda Indonesia dalam tahun 1998 sudah berhasil secara besar-besaran dan serentak di seluruh negara memaksa turunnya Suharto dari jabatannya sebagai presiden Itu adalah satu bukti yang jelas sekali bahwa negara dan bangsa kita sudah mencampakkannya dan tidak menyukainya. Dan itu adalah wajar, bahkan sudah seharusnya. Sebab, sudah ternyata selama 1/3 abad di bawah Orde Baru yang ditopang Golkar dan AD, sistem politik dan kekuasaan Suharto adalah sumber dari banyak ketidakadilan, sumber penderitaan, sumber penganiayaan bagi sebagian terbesar rakyat kita dan sumber kerusakan bagi bangsa dan tanah air kita. Suharto sudah membunuh atau menyuruh  (langsung dan tidak langsung) membunuh Bung Karno beserta jutaan pendukungnya, dan membiarkan terbunuhnya atau dipenjarakannya jutaan orang lainnya yang tidak bersalah, dan membiarkan puluhan juta keluarga (istri, anak dan saudara-saudara) orang kiri, menderita dan sengsara sampai lebih dari 40 tahun. Di samping itu Suharto juga sudah mencekik kebebasan demokrasi bagi sebagian terbesar rakyat kita, sambil secara sewenang-wenang mengumpulkan harta haram bagi seluruh keluarganya dengan berkedok “pembangunan”.Terlalu panjang daftar kejahatan, baik yang menyangkut krimanal, korupsi maupun HAM berat yang telah dilakukan Suharto selama kekuasaannya.”Kalau dalam tahun 1998 hanyalah sebagian kecil saja dari masyarakat, kalangan generasi yang berani bersuara atau bergerak melawan Suharto dengan Orde Baru-nya,sekarang ini — kebalikannya- makin sedikit orang atau kalangan yang masih berani terang-terangan memuji-muji Suharto dan apalagi membela Orde Baru. Sebab, sekarang ini makin terbukti dengan jelas bahwa begitu busuknya Suharto dan begitu buruknya rejim militernya, sehingga kalau ada orang atau kalangan yang masih suka koar-koar memuji-mujinya, maka bisa dianggap tidak waras fikirannya atau sakit jiwanya”.orang-orang yang perlu dipertanyakan  kualitas moralnya, yang masih ngotot menganggap bahwa Suharto adalah tokoh agung yang perlu dihormati sebagai “‘pahlawan pembangunan’ atau sebagai bapak bangsa yang berjasa besar.(http://umarsaid.free.fr/ Apakah Suharto dianggap ‘pahlawan’ karena telah berjasa menghancurkan PKI, dengan demikian menyelamatkan Indonesia dari ‘bahaya Komunisme’, tak peduli jutaan  manusia Indonesia yang tak bersalah telah dibantai, dengan dalih ‘membela Pancasila’?

Dan mereka juga tak peduli kalau Suharto telah melakukan perebutan kekuasaan (merangkak) terhadap Presiden Sukarno, dimulai dengan pengengkaran terhadap perintah Presiden/Pangti ABRI, penangkapan dan memenjarakan para Menteri Kabinet dan melakukan pembunuhan massal terhadap pengikut dan pendukung Bung Karno, memecat orang-orang Soekarno di semua departmen dan badan-badan pemerintahan, menukar dan menggantikan anggota-anggota DPR/MPRS dengan orang-orangnya Suharto dan Angkatan Darat dan Golkar untuk kemudian melalui “MPRS” yang sudah dirobah dan menjadi milik Suharto, hingga dengan mudah, dengan berkedok “konstitusi” Suharto mengangkat dirinya menjadi “pejabat presiden” dan menyepak keluar Presiden RI, Pejuang Kemerdekaan dan Founding Father dan Bapak Bangsa Indonesia, Soekarno! Semua itu mudah berlangsung dan terlaksana karena politik Suharto yang diakuinya sendiri yaitu “bedil dan bayonet”. Dengan bedil dan bayonet Suharto “membina dan membinasakan”. Membina kroni-kroninya dan orang-orang yang bisa dijadikan kawulonya dan membinasakan orang-orang yang mengkritik cara-cara dia  menjalankan kekuasaannya atau tidak setuju dengannya. Hingga jadilah ia sebagai seorang jenderal fasis, otoriter yang mengangkangi, menguasai dan menggerogoti Indonesia selama puluhan tahun dengan menjadi ‘presiden’ ke-2, 3, 4, 5, 6 dan 7 tanpa oposisi. Semua ini adalah berkat politik  ” bedil dan bayonet”. Seperti yang pernah diucapkan oleh Prof. Ben Anderson: “Kalau sudah bedil dan bayonet berbicara, Bung Karno bisa berbuat apa?”.  Ini sejarah!
Bukan itu saja, bahkan Suharto yang sangat licik, kejam dan zalim mengenakan tahanan rumah terhadap Soekarno, dan memperlakukan Presiden Sukarno lebih buruk dari perlakukan yang diberikan oleh rezim rasis dan fasis Apartheid Afrika Selatan terhadap tahanan (ketika itu), pemimpin perjuangan anti-Apartheid dan kemerdekaan Afrika Selatan Nelson Mandela. Perlakuan sewenang-wenang dan teramat kejam Jenderal Soeharto terhadap Presiden Sukarno telah membunuh Presiden Soekarno secara ‘perlahan-lahan’. Bung Karno mati sebagai seorang tahanan politik, sakit tanpa pengobatan di tangan Suharto dan rezimnya! (Ibrahim Isa dalam tulisan: “Suharto, manusia dzalim”)Namun, masih ada orang atau golongan yang menganggap Suharto, manusia dzalim seperti itu sebagai ‘pahlawan’ dengan menampangkan poster besar di pinggir jalan ibukota Jakarta. Memang, “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya” kata Bung Karno. Tapi apakah pantas kalau kata dan ucapan Bung Karno ini justru digunakan buat Suharto, orang yang membunuh Bung Karno?. Benar sekali, “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”, namun jangan lupa. bahwa bangsa yang besar juga harus bisa melihat siapa pahlawan dan siapa pengkhianat bangsanya! Kalau kita mencoba mengorek dan mengaji sejarah tentang G30S, tentang kezaliman Suharto dan rezimnya yang menganiaya Bung Karno, dan merebut kekuasaannya, yang membunuh jutaan bangsa Indonesia, yang menahan ratusan ribu manusia tak berdosa bertahun-tahun  dalam kamp konsentrasi yang tak memadai bahkan membuang, mengasingkan lebih dari 10.000 tahanan ke hutan lebat Pulau Buru, yang menganiaya para mahasiswa, diplomat, duta dan bangsa Indonesia yang berada di luar negeri dengan cara mencabut paspor dan kewarganegaraan RI mereka,  mengeluarkan puluhan bahkan ratusan peraturan-peraturan diskriminatif di dalam negeri yang menganiaya hidup jutaan rakyat dan menjadikan mereka sebagai kaum paria atau warganegara klas kambing, masih saja ada suara-suara sumbang yang berusaha menutupi dan menggelapkan sejarah, dengan mengatakan bahwa membicakan G30S sebagai “tidak produktif”, “jangan membuka luka lama” dsb. dsb. (silahkan baca: Rakyat Merdeka Online 1 Oktober 2006). Sesungguhnya mereka-mereka yang berbicara seperti itu-siapapun adanya, siapapun orang dan jabatannya, mereka-takut kalau dirinya atau keluarganya yang pernah tersangkut atau melakukan kejahatan HAM berat di jaman Suharto, bakal terbuka dan diketahui oleh rakyat.

Dus, mereka mencoba menutupi sejarah, mencoba membuat rakyat lupa, amnesia terhadap kebiadaban Suharto dan rezimnya yang ditopang oleh Golkar dan AD. Kemudian, setelah rakyat lupa, atau setelah generasi muda tidak mengetahui seluk beluk kezaliman Suharto lagi, maka ditimbulkanlah suara-suara “Suharto Pahlawan” dsb. Kemudian, untuk dua atau tiga generasi mendatang, setelah tiada lagi saksi-saksi sejarah yang hidup, kejadian pembunuhan massal oleh rezim Suharto terhadap orang-orang Komunis Indonesia dan rakyat Indonesia, hanya akan dianggap sebagai mitos, sebagai tidak pernah terjadi, sebagai cerita dongeng, sebagai sesuatu hal yang mustahil, seperti halnya Mahmud Ahmadinejad (yang barangkali lahir setelah lewat masa Perang Dunia ke-2), menganggap pembunuhan jutaan Yahudi oleh Nazi Hitler hanyalah mitos, sebagai tidak pernah terjadi…..Seperti itulah busuknya iktikad dan tujuan para penguasa Indonesia sekarang yang mengatakan membicarakan masalah G30S sebagai “tidak produktif”, sehingga dengan mudah si pembunuh dan penghianat bangsa, negara dan revolusi Indonesia dianggap sebagai “pahlawan”. “Siapa yang bisa mengatakan atau dapat menyebut dia pahlawan, kecuali keluarganya atau kroninya, atau orang-orang yang diuntungkan oleh dia? Tetapi sangat sulit menjadikan Suharto pahlawan nasional. Karena kriteria pahlawan nasional itu adalah orang yang sangat berjasa untuk negara dan bangsa Indonesia. Dan di dalam perjuangannya itu tidak mempunyai cacat.  Apakah Soeharto tidak mempunyai cacat dengan pelanggaran HAM berat yang terjadi sepanjang sejarah 30 tahun itu. Itu kan cacat yang sangat besar. Belum lagi kalau kita telusuri korupsi yang dilakukan, misalnya melalui yayasan dan lain-lain. Jadi sangat sulit untuk misalnya mengangkat Suharto sebagai pahlawan nasional”.

Demikian Wawancara Dr. Asvi Warman Adam, Ahli Sejarah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dengan Radio Nederland Wereldomroep pada 29 Januari 2008) Dalam situasi Indonesia yang sekarang ini, di mana rakyat bangkit berdemonstrasi membela KPK, membela yang benar, melawan korupsi dan rekayasa, menuntut penangkapan koruptor dan tukang suap, membela hak-hak rakyat dan demokrasi demi keadilan dan kemakmuran masa depan, masih saja ada golongan-golongan yang tidak merasa malu (karena memang tidak punya malu!) melakukan ‘demonstrasi’ dengan memamerkan poster besar diktator fasis Suharto, ahli rekayasa dan fitnah, koruptor dan pembunuh jutaan rakyat dan bangsa Indonesia, sebagai ‘pahlawan’. Tidakkah mereka-mereka ini mau belajar dari sejarah? ***

About Administrator

ok deh
This entry was posted in Tau ga??. Bookmark the permalink.

2 Responses to Soeharto Pahlawan??

  1. ihsan says:

    memang sepantasnya Soeharto menjadi pahlawan nasional berdasarkan keputusan negara atau tidak . jasanya yg paling besar ya itu:menumpas G30S-PKI dan sekali gus membubarkan PKI dan melarang ajaran komunis di seluruh Indonesia.memang ada orang yg gigih ingin memutar balikkan fakta sejarah termasuk si Asvi warman Adam ahli sejarah yg berusaha mempengaruhi generasi muda dgn memutar balikkan sejarah yg ingin menun jukkan bhw PKI itu baik dan tidak salah. jangan si AWA ini salah satu keturunan org PKI atau setidaknya masih ada hubungan kerabat dgn PKI,atau dia memang org atheis. pada waktu pengganyangan PKI thn 1966 itu,ada tokohnya yg mengatakan bahwa mereka akan bergerak terus dibawah tanah dan akan bangkit lagi 40 tahun kemudian. kenyataan sekara ng ini banyak kader2nya bermunculan,diantaranya si Asvi Warman Adam itu lah.

  2. ihsan says:

    Soeharto adalah pahlalawan yg menumpas G30S -PKI,itu tidak terbantahkan,sedangkan si Asvi Warman Adam adalah kerabat PKI yg ingin memutar balikkan sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s