KENAPA SAYA MUNDUR dari Wagub DKI Jakarta

Ringkasan dari : http://www.detiknews.com/read/2012/01/26/144231/1825827/10/peristiwa-menyesakkan-bagi-prijanto-atas-foke?991101mainnews

1.

Dalam buku ini, pria kelahiran Ngawi ini menceritakan 10 peristiwa yang merupakan benih dari keputusannya untuk mundur. Berikut sebagian peristiwanya seperti diceritakan dalam halaman 49 yang ia beri judul `Etika Birokrasi`.

“Sejak awal menjabat, sampai dengan kasus Mbah Priok, tiap saat Gubernur pergi meninggalkan dinas buat urusan di dalam negeri maupun di luar negeri. Tidak pernah memberitahu kepada Wagub apakah secara lisan, telepon ataupun SMS,” cerita Prijanto.

Terkait kasus itu, lanjut Prijanto, Instruksi Gubernur tentang penertiban bangunan di sekitar makam seharusnya ditandatangani Gubernur namun akhirnya ia tanda tangani karena Foke tengah rapat bersama Presiden saat itu.

Kerusuhan pun terjadi yang menyebabkan Koja terbakar. Namun saat beberapa orang menyerang dirinya, sambung Prijanto, Foke sama sekali tidak berbicara dan membuat pernyataan apa pun.

“Sesungguhnya saya berharap Gubernur mengatakan: Wagub menandatangani surat itu atas instruksi saya. Dalam posisi itu Wagub bertindak untuk dan atas nama Gubernur. Jadi tidak ada yang salah sedikit pun,” ungkap Prijanto yang menuturkan hal yang diharapkannya tidak terjadi.

Rupanya ada staf yang menyusul Gubernur dan memberi laporan atas sikap Prijanto termasuk keinginan mundur. Foke pun kembali ke Jakarta dan dirinya ke Bali. Prijanto mendengar Gubernur akan mengubah sikapnya.

“Alhamdulillah, saya terima pernyataan akan mengubah sikapnya tersebut dengan penuh harap dan rasa lebih lega. Memang ada satu perubahan setelah itu, yaitu kalau pergi memberi surat PLH Gubernur,” tulisnya.

 

2.

Pada halaman 54, Prijanto menceritakan cerita lain yang ia beri judul `Umroh versus Plesiran`. “Saya bersama istri berniat Umroh. Saya lihat jadwal perjalanan Umroh di Maktour. Saya pilih salah satu jadwal pemberangkatan, saya lupa tepatnya, seingat saya keberangkatan dari Jakarta hari Sabtu siang atau sore,” tulisnya.

Prijanto melihat jadwal Gubernur memungkinkan dirinya memilih jadwal tersebut. Gubernur memang ada acara di Jepang, tetapi pulang hari Jumat. Dia mengajukan izin ke Gubernur , disetujui dan proses administrasinya pun lolos.

“Persis Jumat pagi, saudara Sekda menghadap saya, lapor bahwa Gubernur tidak jadi pulang Jumat hari ini. Gubernur akan pulang Senin. Gubernur dari Jepang akan mampir ke Korea atau Hongkong (saya lupa). Dan Pak Wagub bila akan berangkat Umroh dipersilahkan berangkat saja,” cerita Prijanto.

Ia mengaku kaget. Sebagai tentara ia tidak bisa meninggalkan Jakarta kosong tanpa ada pemimpin.

“Kalau saya berangkat Umroh dan tahu Gubernur tidak ada di tempat, kalau Jakarta ada apa-apa maka yang bodoh dan salah adalah saya! Sudah tahu Gubernur tidak ada, kok pergi. Saya lebih baik mengalah. Umroh saya batalkan,” ungkap Prijanto kepada Sekda waktu itu.

Ia tahu bila tetap nekat pergi, dirinya tak salah karena Foke telah mengizinkannya. Namun idealisnya untuk tetap menjaga organisasi pemerintah memaksanya mengurungkan niat untuk Umroh.

 

3.

Suatu hari diadakan acara coffee morning antara pimpinan DKI dengan pimpinan-pimpinan DPRD DKI Jakarta periode 2004-2009 di Balaikota, Jakarta.

“Seperti biasa saya terbangun malam. Selesai sembahyang ada keinginan untuk menyampaikan sesuatu di acara coffee morning besok. Pukul 03.00 WIB saya telepon staf saya untuk besok datang ke kantor lebih pagi untuk membuat slide,” cerita Prijanto.

Ia pun menghubungi Karo KDH untuk lapor Gubernur agar mengizinkan Prijanto menyampaikan hal yang nantinya akan ia tampilkan sebagai gagasan Gubernur. Kenapa Prijanto melakukan hal itu?

“Karena saya sadar, terjadinya ‘matahari kembar’ di dalam suatu organisasi tidak sehat sama sekali. Saya tidak ingin hal ini mengusik kalbu atasan saya,” ujarnya.

Namun menjelang acara dimulai, ia mendapat laporan dari Karo KDH bahwa Wagub tidak diizinkan bicara. Prijanto mengaku heran padahal ia hanya berusaha membantu Gubernur untuk menyelesaikan masalah kota Jakarta.

“Dalam situasi ketika kegetiran relasi kekuasaan muncul, gula di dalam kopi yang saya minum, tidak bisa membuat kopi terasa manis. Ketika situasi menjadi pahit, kopi pun ikut-ikutan pahit,” tutur Prijanto.

 

About Administrator

ok deh
This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s